Karya Firdaus Yusuf
RUMAH PANGGUNG kami yang
berjarak 500 meter dari sebuah benteng di tepi pantai bergetar.
Peralatan masak ibu di dapur berserakan di lantai tanah. Belanga-belanga
jerami pecah. Kopiah ayah di atas meja rotan berpindah-pindah. Ibu
membungkus barang-barang bawaan seadaanya dengan kain sarung.
“Bergegaslah. Sebentar lagi kafir-kafir yang jumlahnya lebih banyak
daripada ikan teri di pasar akan menembus benteng,” kata Ayah pada Ibu.
“Ceudah…,”
Ayah memanggilku saat aku, Ibu dan adikku, sudah berbalik badan. Lalu
dia mengambil rencong yang terselip di pinggangnya. “Ini!”
Di
ambang pintu, Ibu yang menggendong adik perempuanku, menatap Ayah dengan
tatapan kosong. Kulihat mata Ayah dan Ibu berkaca-kaca. Adikku menangis
terus sedari tadi. Tak ada keharuan yang berlebihan di pagi buta itu.
Itu hari terakhir aku bertemu Ayah.
Aku bersama adik perempuanku
yang masih berumur tiga tahun dibawa Ibu keluar dari kampung bersama
kaum perempuan lainnya. Perang tak kunjung reda meskipun perang besar
dan terbuka telah usai. Berbulan-bulan kami berpindah-pindah dari satu
kampung ke kampung yang lain. Suatu pagi, aku, Ibu, dan adikku, serta
beberapa tetanggaku memberanikan diri pergi ke bandar karena tak ada
lagi makanan yang tersisa. Tapi, kami tak mendapatkan apa-apa di sana.
Kedai-kedai tutup. Yang ada hanya puing-puing reruntuhan bangunan di
sekitar Mesjid Raya. Kulihat sudut-sudut bandar dihuni oleh serdadu
Belanda. Bandar penuh dengan bangunan dari kayu yang tak terlalu besar,
yang dilingkari dengan kawat-kawat berduri setinggi pria dewasa.
Serdadu-serdadu Belanda itu, ada yang putih seperti cicak; dan ada juga
yang hitam, mirip lutung.
Di bandar, serdadu-serdadu Belanda tak
lagi beringas usai perang besar tempo hari. Kami pulang untuk
melihat-lihat kampung. Betapa luruhnya hati kami tatkala mendapati
kampung telah musnah. Abu bekas rumah-rumah dibakar beterbangan ditiup
angin laut.
Kudengar dari percakapan Ibu dengan orang-orang
dewasa lainnya: wabah penyakit kulit menyebar di bandar. Konon, kata
mereka, Belanda kualat karena membakar Mesjid Raya. Dan…, saat itu,
sultan juga telah mangkat.
“Penyakit itu menyebar begitu cepat,”
kata Ibu, ketika mengobrol dengan tetanggaku, Mak Téh, yang juga ada
dalam rombongan kami. Dalam masa-masa itu, manakala hujan turun dengan
deras sepanjang hari, banjir besar juga menyeruak dari Krueng Aceh.
***
Akhirnya
kami memutuskan untuk tinggal di satu padang yang tak terlalu besar di
tengah hutan Tuhan yang dikelilingi rawa-rawa. Ada sungai dan ada
berbagai macam pohon di sana.
“Sekarang,” ujar Mak Téh, “kumpulkan uang dan perhiasan yang ada pada kalian.”
Tak
semua orang mulanya sudi menyerahkan benda berharga mereka itu. Namun
berkali-kali Mak Téh meyakinkan perempuan-perempuan yang hampir semuanya
membawa anak-anak itu. “Kita tak punya pilihan lain. Kalian mau
anak-anak kalian mati kelaparan?”
Mak Téh akhirnya mengemas
perhiasan mereka dengan kain sarung. Dia dan lima perempuan yang
terbilang jauh lebih muda darinya, turun ke bawah, ke kampung yang
paling dekat.
Aku dengar sekilas-pintas dari orang-orang dewasa,
mereka yang turun ke kampung, berjalan kaki seharian dan mengikuti jalan
setapak yang telah kami buka ketika kami menjelajahi hutan itu untuk
menemukan tempat kami menetap ini. Kedai-kedai tertutup mulanya. Tapi
menurut penuturan beberapa warga di kampung tersebut, kedai milik orang
Cina dibuka jika ada orang yang datang membeli. Tapi barang-barang di
situ mahal. Pedagang-pedagang itu ambil kesempatan menaikkan harga saat
situasi seperti ini.
Mak Téh membeli dua karung ubi dan meminta
batang-batang ubi pada penduduk di kampung yang mereka sambangi itu. Dia
membeli induk ayam dan anak-anak ayam serta berpuluh-puluh butir telur
ayam.
***
Bertahun-tahun kemudian, semua tampak berbeda di
Cot Gle. Ya, 53 perempuan yang sebelumnya menjejakkan kaki di padang
yang dikelilingi rawa-rawa itu, menamai tempat tersebut Kampung Cot Gle.
Ada kebun ubi, ada kandang-kandang ayam yang terbuat dari batang bambu;
ada juga petak-petak tanah yang ditumbuhi tomat, bawang, dan cabai.
Gubuk-gubuk dari batang bambu dan dinding jerami, serta atap daun rumbia
juga telah berdiri di sana. Sebuah balai yang lumayan besar kami
jadikan tempat mengaji dan sembahyang. Di belakangnya, bunyi air sungai
mengalir terdengar bersama derap langkah sejumlah orang yang mengangkut
air.
Mak Téh dan yang lain jarang turun ke kampung. Jika sebelum
serdadu Belanda masuk ke kampung-kampung, tapi akhir-akhir ini, mereka
mulai masuk ke hutan. Setidaknya begitulah yang aku tahu.
***
Suatu
pagi yang tak biasa, ketika aku membantu Ibu mencuci pakaian di sungai,
kudengar suara ribut-ribut di atas. Derap langkah manusia terdengar
bersama bunyi kecipak air di rawa-rawa. Burung-burung beterbangan dari
dahan-dahan pohon.
“Ambil parang. Sembunyi. Sembunyi.” Kudengar kalimat itu samar-samar.
Ibu
dengan cekatan menggendong adikku. “Ceudah, kita naik ke atas,” kata
Ibu padaku. Kami menapaki batu-batu yang lumayan besar untuk melihat apa
yang sedang terjadi di atas sana. “Itu seperti kampung Letnan!”
Terdengar suara seseorang berteriak. “Itu kampung mujahidin!”
Adikku menangis. Ibu mencoba menenangkannya tapi hal itu sia-sia. “Ibu, aku takut.”
Berdirilah
seorang serdadu Belanda berkulit hitam di hadapan kami. Dengan wajah
setengah kaget dia menatap kami. Matanya mendelik. Ibu, yang juga
menggendong adikku dalam pangkuannya, menepis moncong senjata si serdadu
tersebut, yang di arahkan padaku. “Lari Ceudah,” kata Ibu, berteriak.
“Lari!”
Satu letusan membahana. Ibu tersungkur ke tanah. Dengan
cepat si serdadu itu lalu mengayun kelewangnya ke leher adikku. Aku
berlari ke arah rumpun bambu. Ketika aku menoleh ke belakang, kulihat si
serdadu itu, memasukkan mesiu dan peluru ke dalam senjatanya. Ketika
dia menarik pelatuk, kakiku tersandung sebuah batang pohon. Aku
terjatuh.
Terdengar serdadu-serdadu Belanda lainnya
bersorak-sorai. “Menghadapi perempuan dan anak-anak saja kau tak becus,”
seru seorang serdadu, yang ada dalam kerumunan di sampingku. “Mau lari
ke mana anak setan?”
Si serdadu itu mendekatiku dengan langkah
yang pelan dan gerak tubuh yang dibuat-buat. Napasku terengah-engah.
Kulihat ke belakang, tak jauh dari tempat aku terduduk di tanah, di
balik rumpun bambu, Mak Téh menggenggam ranting pepohonan sebesar jempol
tangan. Dia mengisyaratkan padaku untuk diam. Sementara, dari sebelah
kiri aku terduduk, beberapa serdadu Belanda, yang sesekali menatapku,
sepertinya mencium sesuatu yang janggal. Tapi mereka hanya menengok ke
bawah-ke sungai. Dan juga ke dalam rumah-rumah. Apa mereka tak bisa
melihat Mak Téh dan yang lainnya? Tanyaku sendiri.
Aku lihat Mak
Téh menebas ranting yang dia genggam dengan sebilah parang. Kepala si
serdadu Belanda yang ada di depanku, yang telah menarik pelatuk dan siap
menembak, copot dari lehernya bersamaan dengan jatuhnya ranting yang
ditebas Mak Téh tadi ke tanah.
Sontak saja, serdadu-serdadu
Belanda lainnya, yang tadinya bersorak-sorai, terdiam seketika. Mereka
menuju ke arahku. “Jangan tembak anak itu,” kata seorang lelaki tinggi
dan berkulit putih, yang dipanggil Letnan. “Geledah tempat ini! Bakar!”
Serdadu-serdadu
Belanda akhirnya berjalan ke deretan rumpun bambu di belakangku. Mak
Téh dan yang lainnya tak berbuat apa-apa mulanya. Tapi ketika
serdadu-serdadu Belanda itu berada dari jarak beberapa langkah dari
rumpun bambu tempat Mak Téh dan lainnya berdiri, dengan tangkas Mak Téh
dan yang lainnya menebas serdadu-serdadu Belanda diiringi dengan
teriakan Allahu Akbar .
Tapi, itu tak berlangsung lama. Senjata
pendek serdadu-serdadu itu berdentuman dan kelewang mereka melayang
dengan cepat ke segala arah. Termasuk ke leher anak-anak. Ketika tak ada
lagi perlawanan, lelaki yang dipanggil letnan itu mendekatiku. Dia
mencoba merangkulku, tapi aku berusaha untuk menghindar. Aku memakinya
sambil beringsut di tanah. “Tenang anak manis. Kau tak perlu takut.”
Dia
melangkah ke arahku sementara aku terus beringsut ke belakang hingga
tubuhku tertahan tiang bambu sebuah gubuk. Jantungku berdegup kencang.
“Siapa namamu?” Dia menjulurkan tangan kanannya. Lalu, dia jongkok tepat
di hadapanku.
Kulihat bola matanya yang biru menatapku
lekat-lekat. Dalam masa saling tatap-menatap dengannya, matanya
memandang tajam ke pinggangku. Tanpa pikir panjang, secepat kilat aku
tarik rencong yang tersampir di pinggangku dari sarung dan kuhujamkan
senjata pemberian ayahku itu ke lehernya. Tak lama kemudian terdengar
letupan senjata bertubi-tubi.
* Firdaus Yusuf
lahir di Sigli, 25 April 1990. Menyelesaikan studi di Fakultas Keguruan
dan Pendidikan Jurusan bahasa Inggris di Universitas Jabal Ghafur Gle
Gapui Sigli.
No comments:
Post a Comment