Karya Teuku Hendra Keumala
SALAM Marya. Kau yang
sedang berada jauh, di Negeri Sakura, negeri empat musim, di mana semua
orang hidup gembira. Tidak ada harapan lain dariku untuk saat ini,
selain berharap kau tetap ceria, senantiasa berada dalam limpahan
rahmat Allah SWT.
Marya, aku berharap kau tidak terkejut dengan
kedatangan suratku ini. Kau tahu, aku bukan orang yang suka menulis
surat. Tidak perlu aku jelaskan tentang sifatku yang satu ini, apa yang
menyebabkan engkau tidak pernah mendapat surat balasan dariku, untuk
menanggapi surat-suratmu yang pernah kaukirimkan kepadaku. Menulis surat
memang bukan kebiasaanku.
Aku akui itu adalah sifat burukku. Aku
tidak seperti kawan-kawan lain yang sering berbalas surat denganmu.
Marya, kau tahu, rasa-rasanya tidak ada sesuatu yang berharga bagiku
saat ini, selain menulis surat ini untuk mu. Menceritakan banyak hal
kepadamu setelah kita berpisah. Aku harap kau punya waktu luang membaca
suratku ini, di sela-sela kesibukanmu. O ya, sebelum surat ini berbicara
lebih panjang, aku akan memulai dengan menceritakan sedikit suasana di
tempatku saat ini.
Pada saat aku mulai menulis surat ini untukmu,
langit diselimuti awan hitam, langit bersiap mencurahkan hujan,
menghantam tanah-tanah gersang. Mendung begitu pekat, gemuruh berdentum
dan petir mengerjap. Begitulah juga suasana hatiku, mengerjap, menyimpan
rindu kepadamu.
Rindu telah memasungku dengan masa lalu.
Menyebabkan butir air mata keluar dari dalam pelupuknya, menitis
membasahi pipi. Apakah ada artinya penyesalanku ini, karena baru
sekarang aku mengakui?
Aku kadang dapat merasakan kembali sebuah
masa lalu, merasakan kembali di mana kebahagian dan kehangatan telah
begitu lama tejalin. Aku melihatnya. Aku pikir, kenangan itu tidak
pernah percuma, sebagaimana dia tidak pernah benar-benar menghilang
begitu saja. Maafkan. Maafkan aku Marya, bila sekaranglah aku dapat
mengerti hal tersebut dengan sangat baik. Harus aku akui sekarang
perasaan itu ada. Apa kau lihat pipiku memerah? Bila mengingat hal itu,
rasanya aku ingin mengulangi masa-masa itu, saat-saat kita masih bersama
duduk di ruang kelas menatap tekun sang guru.
Marya, hujan di
Jepang mungkin tidak separah di tanah indatu. Di sana hujan mungkin
seperti kapas berwarna putih cerah. Marya kau manis dan punya sifat
mulia. Bila kata-kataku ini tidak cukup memberi rasa puas dalam hatimu,
untuk itu aku minta maaf karena belum dapat memberikan definisi yang
tepat tentangmu.
Selepas kebersamaan kita berlalu, sekeping
hatiku merasakan kerinduan. Rindu kepadamu. Adakah, oleh rasa rindu ini,
persahabatan kita telah dirasuki oleh sesuatu yang lain?
Marya,
sebenarnya aku telah mengurungkan niat dan mempertimbangkan untuk tidak
menulis surat ini untukmu. Karena aku tahu, hal ini tidak begitu penting
lagi bagimu sekarang. Namun, aku tidak tahu kepada siapa harus aku
ceritakan semua ini? Rindu telah memercikkan api dan membuatku terbakar
karenanya.
Marya, maafkan, maafkan kawanmu. Aku telah berusaha
membujuk hatiku, agar tidak terlalu berharap, aku tak ingin bertepuk
sebelah tangan. Di atas itu semua, apa yang paling aku takuti, perasaan
ini akan menghancurkan persahabatan kita yang telah sekian lama
terjalin. Kawanmu ini tidak tahu di mana harus berdiri sekarang.
Aku
sangat mengerti dengan keadaanku. Aku sama sekali tidak sebanding
dengan sifat kemuliaan yang kau miliki; dengan kecantikan yang
kaumiliki. Aku yang serba kekurangan ini jelas bukan tipemu.
Bagaimanapun peratnayaan-pertanyaan ini membutuhkan jawaban. Setidaknya
aku dapat mengenggam alasan yang tepat jika kelak kau menolakku.
Marya,
apakah di negeri tempat kau berada sekarang masih dapat kau tatap laut
bebas tiada berujung? Seperti yang biasa dulu kau lakukan di tanah
kelahiran. Dulu kau mengajakku, melihat matahari mengukir langit dengan
warna keemasan saat siang berganti malam.
Pada saat seperti itu
kau menyelusuri garis pantai, dengan girangnya berjalan di antara pasir
putih bersih, dan cemara melambai dingin tersibak angin senja, dan kau
biarkan gelombang pasang itu menjilat nakal kaki telanjangmu.
Mungkin
kau di sana lebih tertarik berjalan di antara pohon sakura, menyelusuri
Taman Ashikaga, menyaksikan bunga wisteria mekar, menyiratkan warna
biru putih dan merah muda, menjuntai ke atas membentuk langit-langit
taman serta cabangnya menyerupai payung raksasa.
Di sini, aku
masih sering melakukannya. Sendiri. ketika pikiran rindu menghantuiku,
aku membawa diri menyendiri menyaksikan ombak bergulung-sambung menerpa
karang.Aku hanya menatap dingin hantaman itu. Lamat-lamat, tatkala
matahari menyeprot warna jingga di langit-langit sana, saat itulah semua
bebanku lepas, hilang bersama matahari tenggelam dalam lautan. Pasti
kau masih dapat membayangkan keindahan matahari tenggelam itu bukan?
Terkadang
juga di tempat ini aku lebih sering menghabiskan sore. Di tempat ini
pula aku hanya ditemani oleh debur ombak. Ya, cuma debur ombak. Karena
aku hanya ingin mengenang kebersamaan itu sendiri, tatkala cahaya
perlahan hilang, berganti kelam. Bila sudah demikian, hanya hawa dingin
yang mampu mengusirku dari tempat ini, karena aku memang tidak terlalu
suka dengan dingin.
Marya, selepas kau pergi kuliahku pun usai.
Aku lekas meninggalkan kota ini. Meninggalkan sore-sore bersama debur
ombak. Keputusan ini terpaksa aku ambil karena untuk menemani ibuku yang
sudah memasuki usia senja, padahal aku sangat ingin meniti karir di
kota ini, kota tempat aku menimba ilmu dan juga kota yang telah
mempertemukan kita.
Jika aku tidak pulang, sebernarnya tidak
begitu berat baginya. Masih ada adik perempuanku yang menemaninya. Namun
tidak adil rasanya jika aku serahkan persoalan ini kepada seorang
perempuan, kerena ada hal yang lebih wajib ia urus, yaitu seorang anak
yang selalu merindukan belaian ibunya, serta suami yang selalu ingin
didampingi. Ia sudah berkeluarga dua tahun yang lalu.
Sekarang di
kampung ini, kehidupanku hanya dihadapkan pada musim-musim. Sama
seperti yang terjadi di tempatmu meniti ilmu sekarang. Orang-orang akan
berhadapan dengan kesibukan yang berbeda-beda pada setiap musimnya.
Di
tempatku sedang memasuki musim bajak, musim ketika para petani
menggarap tanah-tanah sawah sampai menjadi lumpur, hingga tergantikan
oleh musim tanam. Kau akan mendapati para petani berjalan mundur sambil
jongkok. Itu tandanya mereka sedang menyemai benih. Begitulah
seterusnya. Musim-musim akan datang silih berganti. Hingga pada suatu
ketika para petani itu menuai hasil dari apa yang telah mereka tanam.
Namun
perlu kau ketahui Marya, semenjak aku pulang ke kampung ini ada musim
yang belum pernah terganti: yaitu rasa rinduku kepadamu; wajahmu
terbelenggu dalam ingatanku, dan memenjarakanku dalam malam-malam
panjang.
Pada saat kuhempaskan semua perasaan pada secarik
kertas ini, di atasku langit yang bertaburan bintang adalah ketenangan
tempat ini. Malam masih kelam, hujan baru saja selesai, berteman
kesejukan aku mengakhiri surat ini. Salamku Marya. Aku orang yang sedang
memendam harapan menyulam mimpi kebersamaan denganmu.
* Teuku Hendra Keumala, alumnus Siswa Sekolah Muharram Journalis College Banda Aceh
No comments:
Post a Comment