Wednesday, June 11, 2014

Jari Manis Ulat Kupu kupu

Karya Berto Tukan

Seekor kupukupu menjelma ulat yang melingkari jari manismu.
Sayapsayapnya yang menentang kemajuan hilang di balik kulit hijau.
Ia melingkar manis, diam, tanpa mata terbelalak.

Jari manismu membekukan masa depan
pun pula jauh sebagai mesin waktu;
cara kita kembali ke lalu.

Seekor kupukupu yang menjelma ulat di jari manismu,
ia kehilangan bungabunga dan tamantaman liar,
tempat anak nakal berlari menginjak rerumputan,
mematahkan rantingranting, menghempaskan kembangkembang,
menyabet jaringjaring, menangkap kupukupu.

Seekor kupukupu lain terbang sendirian, menatap langit,
menghindari dedaunan jatuh, mampir di sebuah dahan pohon, dan
menatap syahdu taman di bawahnya.

Seekor kupukupu menjelma ulat yang melingkari jari manismu
tak lagi memandang ke belakang yang berubah
tak lagi memunggungi di depan yang gelap.


Lelayang
untuk R.F.

Perasaan bagai lelayang
kepala kita menjelma benang
menegang melingkar di kaleng
di tangan lelaki kecil yang sumringah.

Lelayang melayang terterpa angin;
angin katakata, angin bayangbayang,
angin anganangan, angin citacita,
angin kisahkisah.
Beribu beratus berpuluh angin
menggelombang mengolengolangkan
lelayang kita.

Semoga tak ada badai
yang melepas kepala kita.
Semoga tak ada lelayang lain
yang menghempaskan
lelayang kita.
Barangkali jatuh di lautan barangkali nyasar
di bulan barangkali.

Perasaan bagai lelayang.
Kepala kita adalah benangnya.
Dan lelaki kecil itu, ia realitas
realitas kita yang hidup.

 * Berto Tukan adalah mahasiswa program magister Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta. Ia mengelola majalah budaya on-line, Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS.

No comments:

Post a Comment