Wednesday, June 11, 2014

Syariah di Mulut, Syariah di Hati

SYARIAT Islam yang dideklarasikan belasan tahun lalu di Aceh hingga kini masih belum kaffah implementasinya. Baru-baru publik dihangatkan oleh pemberitaan media tentang wacana pemisahan (spin off) unit usaha syariah Bank Aceh dari induknya Bank Aceh (konvensional). Wacana ini mendatangkan sikap pro dan kontra. Ulama jelas-jelas mendukung wacana dan rencana aksi pemandirian unit usaha syariah Bank Aceh agar kehidupan pemerintah dan rakyat Aceh terbebas dari riba.

Namun, aneh, Kepala Biro Humas Pemda Aceh, Murthalamuddin, justru menentang itu. Ia melakukan protes terhadap ulama. Ini sikap paling konyol yang pernah dilakukan oleh Humas. Seharusnya Biro Humas pemerintah menampung semua kritik dan masukan, bukan malah membuat konflik yang dapat merusak citra Pemerintah Aceh yang dapat saja disimpulkan oleh publik sebagai penentang syariat Islam di Aceh.

Selain itu, Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) melakukan investigasi cepat ke dua lembaga yang menjadi ujung tombak pelaksanaan syariat Islam di Aceh, yaitu Dinas Syariat Islam (DSI) dan UIN Ar-Raniry. Ditemukan, dana APBA milik DSI masih disimpan di Bank Aceh konvensional. Sementara UIN Ar-Raniry menyimpan dana sertifikasi dosen dan guru besar di salah satu bank konvensional nasional.

Seharusnya kedua lembaga Islam tersebut menunjukkan sikap berpihak pada bank syariah dan mengalihkan semua dananya ke bank syariah, agar sesuai antara omongan perilaku di lapangan. Kalau institusi Islam saja tak konsisten, bagaimana berharap implementasi syariat Islam yang kaffah di bumi Aceh? Semoga!

Safaruddin, SH.
Direktur YARA Banda Aceh
Email: nyaktafar@yahoo.com

No comments:

Post a Comment